8 Pelajaran Kepemimpinan dari Nelson Mandela

Nelson Mandela

Nelson Mandela

Politikus. Mendengar kata itu, sontak kita mendadak mual. Yang terbayang
adalah monster-monster yang merampok duit negara. Mereka yang memperjuangkan kerakusan diri dan kelompok alih-alih keperluan rakyat yang memilihnya.

Maka tak heran Nelson Mandela terlihat bagai seorang santo di dunia politik yang kotor. Kita semua tahu bagaimana ia membawa Afrika Selatan yang apartheid menuju ranah demokrasi, relatif tanpa adanya konflik antar-etnis berkelanjutan.

Kini di usianya yang kepala 9, orang-orang sedunia mendirikan monumen dan menggelar konser musik untuk merayakan ulang tahun pejuang yang inspiratif ini. Apa rahasia kepemimpinannya? Wawancaranya yang terbaru dengan majalah TIME mengungkapkan 8 prinsipnya yang patut ditiru oleh setiap pemimpin di dunia ini.

1. Courage is not the absence of fear — it’s inspiring others to move beyond it. Mandela kerap kali merasa gentar, dan menurutnya itu wajar dialami oleh seorang pemimpin. Tapi, ia tidak ingin menunjukkan rasa takut itu di hadapan orang lain. Keberanian yang ditampilkan Mandela, meskipun itu kadang hanya berpura-pura, dapat menenangkan kekuatiran dan menyemangati orang di saat-saat sulit.

2. Lead from the front — but don’t leave your base behind. Ketika Mandela memutuskan untuk memulai dialog dengan pemerintah apartheid, teman-temannya mengira ia sudah ’menjual diri’. Ketimbang meninggalkan mereka dan maju sendiri dengan keyakinannya, Mandela mendatangi mereka satu per satu, menjelaskan rencananya, dan dengan sabar membujuk mereka pelan-pelan.

3. Lead from the back — and let others believe they are in front. Tugas seorang pemimpin, kata Mandela, bukanlah untuk menyuruh-nyuruh orang lain, melainkan untuk menciptakan sebuah kesepakatan. Dalam rapat-rapat, Mandela biasanya mendengarkan pendapat teman-temannya terlebih dahulu. Ketika tiba gilirannya, ia akan merangkum semua pendapat itu, baru mengutarakan pendapatnya sendiri dan pelan-pelan mengarahkan hasil diskusi tanpa nada memaksa atau memerintah.

“It is wise,” he said, “to persuade people to do things and make them think it was their own idea.”

4. Know your enemy — and learn about his favorite sport. Di awal perjuangannya, Mandela bersikeras untuk belajar bahasa Afrikaan, bahasa orang kulit putih Afrika Selatan, beserta sejarah kolonialisasi mereka. Ia bahkan berusaha mendalami rugby yang menjadi olahraga favorit kulit putih Afsel. Hasilnya, ia mendapat respek dari pihak lawan, mula dari sipir penjara hingga P. W. Botha (Presiden kulit putih Afsel pada masa apartheid), dan memperlancar proses dialog dengan mereka.

5. Keep your friends close — and your rivals even closer. Orang-orang dekat Mandela tidak selalu orang yang ia sukai. Seringkali mereka adalah rivalnya, orang-orang yang digosipkan berusaha menggulingkan kepemimpinannya. Tapi Mandela percaya bahwa dekat dengan rival adalah satu cara untuk mengendalikan mereka. Tapi bukankah mereka belum tentu akan loyal padanya? Mandela mengakui bahwa loyalitas memang penting, tapi ia juga tak terlalu menggantungkan diri pada hal itu.

After all, he used to say, “people act in their own interest.” It was simply a fact of human nature, not a flaw or a defect.

6. Appearances matter — and remember to smile. Mandela percaya apa yang tampak di luar sama pentingnya dengan apa yang ada di dalam. Karena itu, ia benar-benar menggunakan penampilan fisik untuk membantu perjuangannya. Ia tampan, seorang petinju amatir, anak seorang kepala suku, suka berpakaian rapi dengan jas, dan ia memanfaatkan semua itu untuk membangun citranya. Tapi ikon yang paling menonjol dari Mandela adalah senyumnya yang penuh kedamaian, sehingga ketika berkampanye untuk pilpres, ANC (partainya) tak membutuhkan slogan lain.

7. Nothing is black or white. Meski Mandela jelas-jelas menentang apartheid, ia juga sadar bahwa apartheid memiliki penyebab historis, sosiologis, dan psikologis yang kompleks. Karena itu ia tak pernah terpaku pada satu jalan untuk memecahkan masalah. Mandela adalah politikus yang pragmatis; Ia tak akan segan-segan mengubah ideologi atau taktik (misalnya dengan menghentikan perjuangan bersenjata) jika memang itu adalah cara paling praktis untuk mencapai tujuan akhirnya.

8. Quitting is leading too. Berhenti menjabat atau memerintah bukan berarti berhenti memimpin. Jasa-jasa Mandela cukup signifikan untuk membuatnya menjadi presiden seumur hidup, tapi ia menjadi salah satu dari sedikit pemimpin Afrika yang dengan sukarela tidak ingin dipilih lagi ketika pemilu berikutnya menjelang. Bagi Mandela, yang diikuti dari seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia lakukan, tapi juga apa yang tidak ia lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s