Big Man di Amerika

Indianapolis – Langsing dan seksi. Itulah bayangan saya pada warga negeri Paman Sam seperti yang selama ini saya lihat di bioskop-bioskop. Tapi ternyata bayangan itu tak 100 persen benar.

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Minnesota, Minneapolis, pada 15 Juli lalu, banyak orang setempat yang tak bisa dikatakan seksi. Dengan kata lain, mereka terlalu gemuk.

Pemandangan serupa terjadi di Washington DC dan juga di Indianapolis.

Banyak di antara pria dan wanita, anak-anak dan orang tua, yang bertubuh tidak proporsional. Saking gembrotnya, beberapa di antaranya harus berjalan tertatih-tatih, terhuyung-huyung. Dalam hati, saya kasihan juga.

Jika mereka naik pesawat terbang, saya yakin 100% bahwa kursi pesawat itu takkan cukup menampung mereka, kecuali kelas bisnis yang kursinya agak lega.

Mereka tak sekadar gemuk, tapi mengalami obesitas. Pemandangan ini jarang kami lihat di Tanah Air.

Saya jadi teringat berita-berita di detikcom tentang orang obesitas yang beratnya hingga 200 kg atau 500 kg, dan mereka harus diangkut dengan truk atau helikopter untuk dibawa ke rumah sakit. Mereka tak mampu berdiri apalagi berjalan.

Jika menyaksikan betapa banyak orang mengalami obesitas di AS, saya membatin bahwa berita-berita tentang kemalangan orang terlalu gemuk itu memang benar adanya.

Meski bertubuh tambun, namun warga AS itu tetap bekerja seperti biasa. Ada yang menjadi petugas keamanan, pegawai negeri, maupun pegawai swasta lainnya. Tentunya pekerjaan yang membutuhkan keterampilan mereka dan bukan pekerjaan yang mementingkan daya tarik fisik.

Penyebabnya: Makanan!

Mengapa mereka bisa segembrot itu? Jawabnya adalah porsi makanan yang superbesar.

Setiap saya dan dua rekan saya, peserta IVLP on Cyber Journalism yang disponsori Deplu AS, pesan makan, selalu saja porsi luar biasa besar yang kami dapatkan. Dan seringkali kami terengah-engah menghabiskannya, sehingga kami buang. Padahal kami sudah pesan ukuran yang terkecil.

Berdasar pengalaman itu, kami pun akhirnya memutuskan untuk makan ramai-ramai. Alias, pesan dua atau tiga jenis, lalu kami makan berempat bersama Shawn Callanan, interpreter kami. Atau sisanya kami bungkus untuk dimakan pada jam makan berikutnya. Selain tidak membuang makanan, juga hemat.

Seringkali kami bertanya dulu pada si penjual, seberapa besar porsi makanan yang mereka jual. Mereka seringkali menunjuk gambar atau menjelaskan bahwa porsi mereka biasa-biasa saja. Tapi tetap saja yang keluar adalah porsi yang besaaarrr..

Nyaris semua restoran di sini menyuguhkan porsi di luar ukuran orang Indonesia. Restoran Cina yang sering kami kunjungi karena rasanya lebih cocok dengan lidah kami pun ikut-ikutan menyediakan porsi yang ruarrr biasa besar.

Shawn, interpreter kami yang fasih berbahasa Indonesia, mengakui bahwa obesitas merupakan masalah besar di negaranya.

“Mereka makan banyak, banyak makan makanan sampah (junk food), tapi tidak pernah olahraga dan ke mana-mana naik mobil,” ujar Shawn yang rajin ke gym ini.

Sebagai catatan, pada 2006 lalu, Asosiasi Obesitas mencatat, tingkat obesitas pada warga AS yang berusia di bawah 19 tahun telah meningkat tiga kali lipat sejak 1980.

Kemakmuran adalah biang kerok obesitas. Penduduk AS terlalu kaya sehingga mereka bisa makan apa saja, kapan pun, di mana saja. Makanan apa saja tersedia dan mudah didapatkan di negeri ini.

Namun tentu saja faktor pendidikan berpengaruh. Sekarang orang berpendidikan tinggi mulai beralih pada makanan sehat, olahraga dan makan seperlunya.

Shawn yang pernah menetap di Yogyakarta selama 14 bulan, mengaku sebetulnya porsi orang Indonesia cukup pas untuk orang AS seperti dirinya.

“Saya selama di Indonesia makan porsi orang setempat. Ada pecel lele, gudeg, dan saya rasa porsinya pas,” ujar bule tampan yang sedang mengambil gelar doktor Sastra Indonesia ini.(nrl/fiq)

Diambil dari: http://www.detiknews.com/read/2008/07/28/073700/978686/10/porsi-gede-orang-amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s