Another story of Ayat-ayat Cinta

Tiket nonton AAC Gambar disebelah adalah tiket nonton AAC 8 Maret 2008

Duh…. dah 2 minggu bioskop yang saya datangi penuh terus. Minggu kemarin, tanggal 1 Maret, tiket untuk jam 15:30, 16:30, 17:30 sudah full alias tiket habis alias sold out. Mantap bener ini film, belum pernah seumur-umur lihat film yang antriannya seperti kacang goreng. So, minggu kemarin cuma diisi makan-makan aja deh😦

Hari ini, tepatnya seminggu setelah gak kebagian tiket😀 saya beserta pacar (ciyee……) berniat untuk nonton lagi. Jadi siap-siap deh buru-buru tapi tetap aja sampe bioskop jam 3 sore… alhasil tiket untuk jam setengah 5 dan setengah 6 dah sold out. Untungnya tiket untuk jam setengah 7 masih ada… cihuyyy….!!! pilih-pilih kursi akhirnya milih dipojok F1 dan F2😀

FYI, saya sudah baca sebagian novelnya dan sisanya masih belum dibaca lagi. Maklum,bacanya tergantung mood sih hehehe…. soalnya banyak banget buku yang cm dibaca setengahnya padahal udah beli mahal-mahal lagi😦

Membandingkan novel karangan Habiburrahman El Shirazy ini dengan filmnya adalah suatu kesalahan besar.Kenapa? karena sangat mustahil apabila buku dengan tebal 406 halaman ini dimasukkan semuanya kedalam film dengan durasi kira-kira 2 jam. Akibatnya bisa ditebak, filmnya akan semakin banyak pemotongan adegan yang dianggap tidak perlu. Jadi, dari awal duduk dibangku depan bioskop saya sudah men-set pikiran saya untuk tidak membandingkan antara tulisan di novel dengan film.

Menurut saya, ide cerita novel Ayat-Ayat Cinta ini sangat kuat sekali. Ini terbukti dari saking kuatnya ceritanya, saya sampai melupakan segi sinematografi-nya (ceritanya mau belajar jadi pengamat film nih… :D). Kalau dari sisi ceritanya, mungkin teman-teman bisa baca sendiri ceritanya di novelnya. Saya disini tidak mau menceritakannya lagi karena menurut saya novelnya sudah bagus.

Dari sisi sinematografi, gak tau kenapa sepertinya settingnya terlalu banyak di dalam ruangan dan lebih terkesan di studio. Ada juga sih yang di outdoor seperti adegan antara Fahri-Pemeran utama dengan Maria, salah satu orang yang menyukai Fahri, yang di ceritakan adalah sungai Nil tetapi aslinya sungai itu sebenarnya bukan sungai Nil karena menurut pengakuan Hanung Brahmantio, settingnya adalah di India.

Dari sisi pemain, menurut saya semuanya sudah OK dan tidak ada yang perlu dirubah…

Sekali lagi di karenakan ceritanya yang sangat kuat hingga akhir cerita, banyak diantara penonton yang meneteskan air mata saat menontonnya. Dan hal ini juga berlaku pada “orang disebelah” saya.

Overall menurut saya, ini film yang Highly Recommended untuk ditonton.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s