Huawei, Si Kecil yang Menantang Raksasa

CHINA, maksudnya Republik Rakyat China, kini menjadi negara yang pertumbuhan ekonominya paling tinggi, kebijakan moneternya dapat langsung memengaruhi ekonomi dan moneter dunia. Padahal, mereka yang pernah ke Negara Tirai Bambu itu 10 tahun lalu masih menyaksikan bagaimana negara komunis tersebut terbelakang, tak ada tanda-tanda menuju ke dunia modern.

China seolah baru lepas dari kungkungan komunisme yang mengecam kegemerlapan, lalu muncul sebagai pribadi yang lain sama sekali, meski asas komunisme masih kuat. Dan, semua warga di China sepakat memisahkan politik dengan ekonomi, yang imbasnya ekonomi melejit tak terbendung.

Satu contoh menarik, seorang chief excecutive officer (CEO) perusahaan patungan Perancis dengan China, Alcatel Shanghai Bell, bukan orang RRC. Bukan juga orang Perancis, tetapi justru orang Taiwan, musuh bebuyutan China sejak tahun 1950. Tak ada masalah, yang penting bisnis dan ekonomi jalan terus.

Banyak orang Indonesia yang beberapa kali berkunjung ke China terheran-heran, melihat kemajuan negeri yang punya 1,2 miliar penduduk itu. Orang kita tak bisa mengerti kenapa RRC bisa begitu maju.

Padahal jawabannya sederhana. Singapura yang hanya punya orang China 40 persen dari jumlah penduduknya saja sudah menjadi negara termaju di Asia Tenggara, bahkan jika Asia Selatan juga dimasukkan. Nah, apa yang bisa jadi alasan untuk tidak maju bagi RRC kalau 100 persen penduduk RRC adalah orang China?

Perusahaan-perusahaan dagang, vendor teknologi dari China, sudah merangsek masuk ke negara-negara yang perdagangan dan industri teknologi mutakhirnya sudah berkembang sejak awal abad ke-20 lalu. Mereka yang masih bersikap malu-malu mulai mempermalukan para raksasa dunia.

Misalnya saja di bidang teknologi telekomunikasi, raksasa-raksasa seperti Motorola, Ericsson, dan Siemens (semuanya sudah ada sejak zaman sebelum perang dunia kesatu) terkaing-kaing. Apa yang ditawarkan pabrik-pabrik China yang notabene usianya belum seumur jagung sudah mampu menyaingi produk vendor raksasa itu. Bahkan konon satu perusahaan perangkat lunak di Amerika sudah menggunakan komponen buatan China, sekadar agar tetap bisa bertahan dalam persaingan.

Hasil produksi China tidak kalah dalam mutu dan rendah dalam harga. Itu sebabnya pula petambak udang di Indonesia kebat-kebit begitu ada udang China masuk. Juga pabrik tekstil yang berguguran karena ada barang China masuk yang mutunya tidak kalah, tetapi harganya lebih rendah.

Orang bilang harga hasil produksi China bisa murah karena upah buruhnya juga murah. Ternyata tidak demikian, sebab gaji buruh pabrik ponsel, misalnya, terendah berkisar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta.

Menjadi murah karena produktivitas mereka tinggi sehingga dengan waktu kerja yang sama, hasil yang diperoleh lebih banyak, karena mereka bekerja serius, tidak sambil mengobrol, baca koran, atau merokok. Selain itu, perusahaan tidak dirongrong pejabat setempat yang merasa miskin tetapi punya kuasa untuk “mengayakan” perusahaan sehingga merasa berhak mendapat bagian.

Tak ada pungli, tak ada upeti, sehingga kalkulasi bisnis sesuai dengan apa adanya, tak ada pos tak terduga. Di China, komitmen itu dipegang erat, sehingga pejabat tinggi, wali kota, atau wakil direktur bank pemerintah pun dihukum mati begitu terbukti korupsi. Itu kuncinya.

BANYAK warga kita yang tidak mengenal perusahaan-perusahaan China sebelumnya ketika perusahaan itu masuk ke Indonesia. Juga Huawei, vendor teknologi telekomunikasi yang kini sedang dalam proses menjadi raksasa, menantang dominasi raksasa yang sudah lama berkiprah.

Huawei, yang berkantor pusat di Shenzen, Provinsi Guang Dong, berbatasan dengan Hongkong, tiba-tiba saja menjadi Daud yang kecil jika berhadapan dengan Goliath yang raksasa. Tak heran, sebab Huawei memang “anak kemarin sore” yang baru lahir tahun 1988, tak sampai 16 tahun lalu. Sementara yang menjadi pesaing adalah raksasa-raksasa kuat semacam Nokia, Motorola, Siemens, Ericsson, dan Samsung.

Kini Huawei sudah merambah di lebih dari 40 negara, termasuk di kandang raksasa semacam di Jerman, Inggris, Perancis, Swedia, Rusia, serta Amerika Serikat. Padahal, Jerman adalah rumah asal Siemens, Perancis Alcatel, Ericsson di Swedia.

Huawei membangun pusat penelitian dan pengembangan (litbang) justru di Silicon Valley dan Dallas, AS, juga di Stockholm (Swedia), India, dan Moskwa (Rusia). Sementara di puluhan negara lainnya, termasuk Inggris, Perancis, Spanyol, Portugal, Italia, dan Polandia selain Amerika Selatan, Australia, dan Afrika, mereka membangun pusat penjualan dan pelayanan.

Di dunia, mereka memiliki delapan kantor pusat regional dan 40 kantor cabang. Di Indonesia, Huawei baru masuk tahun 2000 sebagai agen promosi, tetapi kemudian menjadi badan hukum perwakilan dari pusat sejak tahun 2004 ini (PT Huawei Technologies Investment).

Menurut Dai Hui, Senior Product Manager Huawei Technologies Investment Co, Ltd, pertumbuhan Huawei sangat pesat. Jika tahun 2000 pendapatan penjualannya hanya 2,66 miliar dollar AS, tahun 2004 sudah menjadi 3,83 miliar dollar AS, dengan keuntungan naik dari 345 juta dollar AS menjadi 370 juta dollar AS.

Dari jumlah pendapatan tadi, bisnis di luar negeri berkembang dari hanya 128 juta dollar AS pada tahun 2000 menjadi 1,05 miliar dollar AS tahun 2003. Luar negeri menjadi sasaran Huawei, meski pasar dalam negeri China masih jauh dari jenuh. Namun, berkiprah di luar negeri ikut mendewasakan perusahaan milik seluruh karyawannya itu.

Strateginya, kata Dai Hui, Huawei selalu bertujuan memberi keuntungan kepada pelanggannya dan apa permintaan pelanggan juga menjadi kebutuhan Huawei. “Kuncinya, produk bermutu tinggi, harga yang efektif, dan layanan prima serta cepat,” ujarnya.

Saat ini total mereka mempekerjakan 22.000 orang, 10.000 lebih di antaranya bertugas di litbang yang mendapat perhatian khusus. Untuk lembaga ini, Huawei mengalokasikan dana 10 persen dari pendapatannya, dan tahun 2003 lalu dana untuk litbang mencapai 385 juta dollar AS.

Pabrik teknologi telekomunikasi ini punya beberapa produk unggulan, antara lain berupa jaringan telepon nirkabel, jaringan jaringan kabel serta jaringan serat optik, perangkat lunak, komunikasi data, dan ponsel. Jaringan nirkabel tidak cuma GSM, tetapi juga antara lain CDMA 2000-1X dan CDMA pita lebar.

Di dunia, Huawei bekerja sama dalam soal penelitian laboratorium antara lain dengan Qualcomm, Motorola, Intel, Sun, Microsoft, selain mengadakan joint venture dengan Siemens, 3Com, NEC, dan Matsushita.

Di Indonesia, Huawei makin dipercaya membantu operator untuk penyediaan jaringan tetap, jaringan bergerak, dan komunikasi data. Mereka sudah bekerja sama dan membantu PT Telkom, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom, dan PT Mandara Selular Indonesia (MSI).

Huawei membantu PT Excelcom dengan menyediakan produk dan solusi di area di luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Excelcom menjadi catatan sendiri bagi Huawei, karena lewat operator GSM ketiga terbesar ini, Huawei menjadi vendor Asia pertama yang masuk ke Indonesia setelah selama ini hanya ada vendor besar Eropa dan Amerika.

Untuk Bakrie Telecom, Huawei menyediakan produk dan solusi CDMA 2000-1X end to end yang diaplikasikan di Jawa Barat lewat Esia. Sementara dengan MSI, mereka menjadi vendor untuk CDMA 2000-1X yang bekerja di frekuensi 450 MHz.

Bagi dunia telekomunikasi, tak ada vendor untuk CDMA 450 MHz selain Huawei yang juga sekaligus menyediakan handset-nya. MSI yang sebelumnya bernama Mobisel sudah mengimplementasikan CDMA 2000-1X frekuensi 450 MHz di Lampung yang akan segera juga melebar ke kawasan lain di Indonesia.

Ikut meramaikan pasar fixed wireless di Indonesia, Huawei melempar berbagai jenis ponsel GSM, CDMA, dan FWT (fixed wireless terminal), baik untuk frekuensi 450 MHz maupun frekuensi 800 MHz dan 1900 MHz. (HW)

Sumber Artikel: Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s