Bekerja dengan Head Hunter

Meski mahal, banyak perusahaan yang tetap memakai jasa head hunter karena kualitas hasilnya terjamin. Tetapi Bank Mandiri malah tidak menggunakannya. Kenapa?

PT. Excelcomindo Pratama

Susahnya mencari eksekutif di bidang telekomunikasi membuat PT. Excelcomindo Pratama sempat kewalahan kala puluhan karyawannya beberapa kali dibajak.

Ini diakui Joris de Fretes, HR Director Human Capital Development PT Excelcomindo Pratama kala muncul sebuah perusahaan telekomunikasi beberapa tahun lalu. Pasalnya, puluhan karyawan level manager ke atas mengambil keputusan untuk pindah ke perusahaan baru yang dianggap lebih menjanjikan, baik dalam hal remunerasi, jenjang karir, dan pengembangan karyawan.

Padahal, Joris mengaku orang-orang yang ahli di bidang telekomunikasi tidak mudah dicari di pasar. “Kami memang selalu bangun dari bawah, tapi kecelakaan bisa saja terjadi, misalnya jika Manager atau GM kami mengundurkan diri. Padahal yang di dalam belum siap,” ujar Joris kala ditemui di kantornya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Bahkan, Excelcomindo pun mengalami pembajakan karyawan yang 1ebih besar lagi pada 2005 lalu. Sebuah perusahaan teleko munikasi baru yang masuk ke Indonesia, membajak jajaran eksekutifnya, dari level manager hingga GM, hingga 10 orang. Belum 1agi orang-orang yang berada di level bawah. Kelimpungan? “Jelas, akhirnya, mau tidak mau kami pakai jasa head hunter untuk mencari gantinya,” jawab Joris. Head hunter, bisa jadi merupakan alternatif yang terakhir dan terbaik untuk segera mengisi kekosongan di posisi kritikal. Sebab, head hunter memang memfokuskan diri untuk mengisi kekosongan di level-level tersebut. Mereka memiliki database yang lengkap, bagus, jaringan yang luas dan menfilterisasi orang-orang yang tepat untuk perusahaan.

Bagi perusahaan, waktu untuk mencari orang yang tepat bisa berkurang. head hunter karena kualitas nggunakannya. Kenapa?

“Karena tidak mungkin membiarkan posisi kritikal kosong begitu lama,” demikian Joris berujar. Demikian pula dari sisi tenaga. Satu hal yang menjadi pemikiran yang mendalam di setiap perusahaan, lanjutnya, adalah biaya. Biaya meng-hire orang lewat head hunter memang tidak bisa di-pungkiri tergolong tinggi. “Biasanya, pihak head hunter mengambil fee dari total gaji kotor kandidat setahun, yang besarnya sekitar 15-20%. Bahkan head hunter asing rata-rata mengambil fee sebesar 30%,” paparnya kembali.

Bahkan, ada pula head hunter yang menerapkan fee berdasarkan level. Misalnya untuk level direktur fee-nya US.000, level GM atau VP US.000. Bisa juga berdasarkan posisinya, langka atau tidak. “Kalau susah biasanya mahal, kalau mudah bisa murah.” Jika hitung-hitungan dengan merekrut sendiri, maka jauh lebih murah merekrut sendiri. Contohnya, jika Excelcomindo harus membayar orang rekrutmen yang gajinya sekitar 5 juta, kalikan sekian bulan selama masa merekrut orang, maka hasilnya jau dibawah dari fee untuk head hunter. “Dua tahun gaji karyawan biasa, sama dengan satu tahun gaji orang yang direkrut lewat head hunter ditambah fee untuk head hunter. Anda bisa bayangkan, sisanya kan sebenarnya bisa digunakan untuk kepentingan perusahaan yang lain,” jelasnya.

Meski pernah beberapa kali mengguna-kan jasa head hunter, namun Excelcomindo berusaha untuk seefektif dan seefisien mungkin mengeluarkan biaya untuk hal tersebut. “Makanya kami selalu usahakan membangun dari bawah untuk menghindari jika ada posisi-posisi penting yang mendadak kosong. Kami menggunakan jasa head hunter kalau dibutuhkan,” tukasnya.

Disinggung soal garansi yang diberikan head hunter, Joris menjelaskan bahwa sebetulnya kesalahan dalam meng-hire orang lewat head hunter, sama besarnya dengan meng-hire sendiri. “Resikonya sama saja. Bukan jaminan kalau orang itu akan lebih baik karena lewat head hunter. Sama saja beli kucing dalam karung,” imbuhnya panjang lebar. Lain hal jika merekrut sendiri. Jika dalam waktu sekian bulan kemudian orangnya tidak bagus atau mengundurkan diri, maka perusahaan akan kelimpungan. “Kalau pakai head hunter, kami bisa santai. Ini enaknya,” senyum Joris saat mengomentari hal ini.

Bedanya, jika lewat head hunter, maka biasanya ada semacam perjanjian yang isinya jika dalam masa percobaan orang itu berhenti, maka klien akan mendapat gantinya tanpa dikenakan biaya tambahan. Kemudian, tambahnya, ada aturan yang menekankan bahwa head hunter klien sebuah perusahaan dilarang meng-hire karyawan klien ke tempat lain. “Tapi memang ini ada waktunya, tidak seumur hidup. Misalnya setahun.”

Bank Mandiri

Rekrutmen eksekutif di Bank Mandiri lebih banyak dilakukan sendiri. Pertimbangannya, selain faktor biaya yang relatif lebih tinggi jika menggunakan jasa head hunter, juga karena antara kompetensi yang dibutuhkan dengan ketersediaan di pasar tidak cocok.

Peranan head hunter di dunia bisnis internasional menjadi penting karena head hunter mampu menghadirkan short list yang dibutuhkan perusahaan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. “Meski pada akhirnya keputusan berada di tangan perusahaan, tapi head hunter memiliki konsekuensi, dalam mencari kandidat atau talenta yang dibutuhkan perusahaan,” ujar Kustiawan, Executive Vice President Human Capital Group Bank Mandiri.

Beberapa contoh posisi di Bank Mandiri yang menggunakan jasa head hunter yaitu untuk posisi Investor Relations Division Manager dan Chief Financial Officer. “Kebetulan dua posisi tersebut tergolong langka. Makanya harus menggunakan head hunter. Sedangkan untuk bidang lain, kami relatif bisa lakukan sendiri,” akunya.

Kendati demikian, Bank Mandiri sendiri masih belum banyak menggunakan jasa head hunter terutama untuk level top management. Dasarnya, karena sebagian besar talenta yang dibutuhkan secara spesifik sudah bisa dilihat di pasar. “Head hunter diperlukan pada saat perusahaan memang tidak mempunyai sumber atau tidak cukup informasi untuk mencari talenta yang dibutuhkan,” imbuhnya lagi.

Menurut Kustiawan, Bank Mandiri sampai saat ini lebih banyak menggunakan informasi untuk merekrut sendiri di level tersebut, misalnya di level Department Head ke atas. Jasa konsultan, hanya untuk proses seleksi saja. “Masalahnya, kalau kami gunakan head hunter untuk level tersebut, relatif biayanya lebih tinggi.” Selain itu, antara kompensasi yang dibutuhkan dengan ketersediaan di pasar seringkali tidak cocok.

Untuk merekrut sendiri, Bank Mandiri menggunakan banyak informasi mengenai SDM di pasar. “Orang-orang di level eksekutif di pasar tidak terlalu banyak. Ditambah lagi network kami untuk mendapatkan informasi di pasar mudah, makanya memudahkan kami untuk melihat mereka yang memiliki kompetensi yang baik untuk ditempatkan di sini. Kalau sudah seperti itu, untuk apa kami harus menggunakan head hunter?” ujarnya. Maklum jika Kustiawan berujar demikian, mengingat perusahaan tersebut merupakan perusahaan besar dan memiliki reputasi yang baik, sehingga tidak salah jika banyak orang yang ingin bekerja di bank tersebut.

Sumber: PORTALHR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s