NILAI AKTIVA BERSIH (NAB) dan cara menghitungnya

NILAI AKTIVA BERSIH
by: Eko P Pratomo, PresDir Fortis Investments Indonesia

Setelah manajer investasi melakukan aktivitas investasi, seluruh transaksi investasi yang terjadi di informasikan kepada Bank Kustodian. Setiap hari, bank kustodian akan mencatat posisi portfolio yang ada dan melakukan perhitungan nilai aktiva bersih. Bank kustodian juga mencatat total unit yang sudah beredar yang dimiliki seluruh investor. Aktivitas ini sebut sebagai akutansi portfolio reksadana.

Nilai aktiva bersih dihitung berdasarkan nilai pasar wajar (NPW) setiap instrumen atau efek yang berada didalam portfolio. Ini sering disebut sebagai “Marked-To-Market”. Informasi NPW diperoleh dari harga penutupan bursa atau harga transaksi yang terjadi. Untuk instrumen pasar uang, NPW berdasarkan nilai nominal (untuk deposito) atau nilai amortisasinya (Obligasi kurang dari satu tahun).

Sementara, untuk pendapatan (dari bunga atau dividen) dana dan biaya – biaya dilakukan perhitungan secara “Accrued” atau dicatat pendapatan dan biaya walaupun belum dilakukan realisasi penerimaan dan pembayaran tunai.

Contoh perhitungan di tabel berikut:

Agar lebih mudah memahami cara perhitungan NAB/unit, marl kita lihat contoh suatu reksa dana yang melakukan penawaran umum perdana (penjualan awal) pada 1 Januari 2004. Dana yang terkumpul dari seluruh investor pada saat awal adalah sebesar Rp1.000.000.000.

Pada tanggal tersebut, manajer investasi telah melakukan penempatan investasi pada obligasi sebesar Rp950.000.000 (95% dari total dana) dan penempatan pada deposito sebesar Rp50.000.000.

Bank kustodian akan melakukan pembukuan akuntansi seperti terlihat pada tabel di atas. Pada saat tersebut belum terdapat pendapatan maupun biaya-biaya karena baru pertama kali akuntansi reksa dana dilakukan. Berdasarkan data harga pasar dan tidak adanya pendapatan dan biaya, NAB reksa dana adalah sebesar Rp1.000.000.000 sama persis dengan total dana yang terkumpul.

Pada saat pertama kali diluncurkan NAB/unit ditetapkan (berdasarkan peraturan Bapepam) sebesar Rp1.000. Sehingga, dapat dihitung unit penyertaan yang dibeli (diperoleh) investor, yakni sebesar 1.000.000 unit.

Setelah berjalan selama satu bulan dan diasumsikan tidak ada perubahan investasi serta tidak ada penambahan dan penarikan dana, posisi portofolio reksa dana pada 31 Januari 2004 menjadi seperti pada tabel di atas.

Pada tanggal tersebut, bank kustodian akan mencatat pendapatan yang diperoleh dari bunga deposito selama 30 hari (setelah dikurangi pajak) serta pendapatan dari kupon bunga obligasi selama 30 hari (bebas pajak), berdasarkan masing-masing harga nominalnya. Juga, ditentukan harga pasar wajar dari deposito dan obligasi (diasumsikan tidak ada perubahan harga dari harga pembelian). Nilai portofolio dihitung berdasarkan nilai pendapatan yang diperoleh ditambah nilai pasar masing-masing instrumen.

Setelah berjalan 30 hari, timbul biaya-biaya untuk jasa manajer investasi, bank kustodian, dan biaya lainnya (misalnya transaksi). Dengan demikian, NAB sudah bisa dihitung dengan mengurangkan biaya-biaya dari nilai portofolio.

Dengan mengetahui total unit yang beredar sebesar 1.000.000, NAB/unit dihitung dengan membagi NAB dengan unit yang beredar.

Mungkinkah NAB/unit turun atau mengalami kerugian? Mungkin saja! Hal itu terutama disebabkan oleh terjadinya perubahan harga pasar dari instrumen yang ada di dalam reksa dana.

Kembali ke contoh sebelumnya. Mari kita lihat dengan portofolio yang sama. Apa yang terjadi jika harga pasar wajar obligasi pada portofolio kita mengalami penurunan sebesar 1% pada 31 Januari 2004? Akibat penurunan harga ini, nilai pasar obligasi menjadi sebesar Rp940.500.000 (lebih rendah 1% dari saat obligasi pertama kali dibeli).

Dengan kondisi lainnya sama seperti sebelumnya, NAB portofolio kita menjadi Rp999.533.561,64. Sehingga, dengan total unit yang beredar sebesar 1.000.000, NAB/unit kali ini menjadi Rp999,53 atau turun sebesar 0,047% dari NAB/unit awal Rp1.000.

Hal sebaliknya dapat juga terjadi, yaitu harga pasar obligasi bergerak naik dari harga sebelumnya, sehingga menghasilkan kenaikan NAB/unit yang lebih besar.

Tabel di atas memperlihatkan tampilan hasil investasi yang umumnya dipublikasikan kepada publik setiap hari. Bagian yang dipublikasikan hanya kolom yang berwarna biru, namun untuk mempermudah memahami dari mana angka-angka tersebut muncul, tabel di atas dilengkapi dengan informasi NAB/Unit setahun dan tiga puluh hari sebelumnya.

Hasil investai 30 hari dan satu tahun terakhir masing-masing dihitung berdasarkan perbandingan NAB/Unit hari penutupan (31-Des-03) dengan NAB/Unit 30 hari sebelumnya (1-Des-03) dan NAB/Unit setahun sebelumnya (31-Des-02).

Hasil investasi riil satu tahun, dihitung dengan memasukkan maksimum biaya-biaya (pembelian dan penjulan), dengan formula = {[(1 – biaya penjualan) x NAB/Unit akhir] dibagi [(1 + Biaya Pembelian) x NAB/Unit awal] – 1} x 100%. Di sini perlu diperhatikan faktor jangka waktu investasi, makin panjang jangka waktunya, makin kecil biaya yang akan dikenakan kepada investor (perhatikan Prospektus).

Perhatikan pula adanya pembayaran dividen pada Reksa Dana Dana Lestari. Juga perhatikan NAB/Unit dari Reksa Dana Pasar Uang yang selalu Rp1.000 dikarenakan adanya pembagian dividen secara harian. Reksa Dana Pasar Uang juga memiliki keunikan lain, yakni tidak dibebankan biaya pembelian dan penjualan.

Special thanks to ALPHA CHASER from INVESTASEE

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s